Sebagian besar dunia memiliki keyakinan akan budaya yang kuat bahwa anak-anak dapat meningkatkan kesejahteraan orang tua, terutama wanita, dan keyakinan ini telah memperkuat norma tentang keinginan memiliki anak. Menjadi orang tua dapat mengubah kehidupan seseorang, baik secara positif ataupun negatif, dan banyak di antaranya tidak terduga oleh orang tua itu sendiri. Memiliki anak dapat meningkatkan kebahagiaan, menguatkan ikatan sosial dengan keluarga dan teman (Gallagher and Gerstel 2001; Umberson and Gove 1989), dan menciptakan peran baru bagi orang dewasa untuk membawa hak, tanggung jawab, dan rasa kedewasaan (Sieber 1974; Hoffman and Manis 1979).
Orang-orang yang dibesarkan dalam lingkungan rumah yang positif, dengan keluarga yang stabil biasanya ingin menciptakan kehidupan yang berarti satu sama lain suatu. Mereka ingin membentuk suatu keluarga yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta dimana mereka dapat memberikan kasih sayang kepada anak-anak mereka.
Infertilitas merupakan suatu masalah multidimensi dengan implikasi sosial, ekonomi, dan budaya yang dapat mengancam jumlah penduduk di negara-negara dengan demografi yang kuat. Infertilitas merupakan kondisi medis yang dapat menyebabkan gangguan psikologi, fisik, mental, spiritual, dan penurunan medis pada pasien.
Penyebab dari infertilitas bermacam-macam: 1 dari 3 wanita yang infertil mengalami gangguan pada sistem reproduksinya; 1 dari dari 3 pria mengalami gangguan pada sistem reproduksi, dan 1 dari 3 pasangan memiliki masalah yang mempengaruhi keduanya atau belum diketahui masalahnya. Gangguan medis yang unik ini melibatkan baik pasien dan pasangannya.
Infertilitas Wanita
Infertilitas merupakan penyakit yang umum terjadi. Setidaknya sekitar 10% dari wanita mengalami infertilitas. Peluang terjadinya infertilitas meningkat seiring dengan bertambahnya usia. World Health Organization (WHO) melakukan penelitian multinasional untuk menentukan distribusi jenis kelamin dan etiologi dari infertilitas.
Infertilitas terjadi ketika wanita dari suatu pasangan tidak dapat hamil setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan obat kontrol. Hal tersebut dapat terjadi karena salah satu dari pasangan tidak dapat berkontribusi pada pembuahan, atau wanita tersebut tidak dapat melewati kehamilan dengan baik. Pada 37% pasangan infertil, infertilitas wanita menjadi penyebabnya; pada 35% pasangan baik wanita dan pria menjadi penyebab infertilitas; dan 8% merupakan faktor penyebab infertilitas pria.
Tanda-tanda Infertilitas pada Wanita
Pada wanita, perubahan siklus menstruasi dan ovulasi dapat menjadi salah satu gejala dari penyakit yang berhubungan dengan infertilitas. Gejala-gejala tersebut termasuk:
- Periode menstruasi yang abnormal. Perdarahan lebih banyak atau lebih sedikit dibandingkan biasanya
- Periode menstruasi tidak teratur. Jumlah hari di antara setiap periode bervariasi setiap bulan
- Tidak mengalami menstruasi. Tidak pernah mengalami menstruasi, atau menstruasi tiba-tiba berhenti
- Nyeri haid, nyeri punggung, nyeri panggul, dan kram dapat terjadi.
Hal-hal yang Menyebabkan Infertilitas Wanita
Ada banyak kemungkinan yang menyebabkan infertilitas, namun sulit untuk menentukan penyebab pastinya, dan beberapa pasangan mengalami “unexplained infertility”. Beberapa kemungkinan penyebab dari faktor infertilitas pada wanita:
- Permasalahan dengan rahim: Hal ini termasuk polip, fibroid, septum, atau adhesi di dalam rongga rahim. Polip dan fibroid dapat terbentuk dengan sendirinya kapan saja, sedangkan kelainan lain (seperti septum) muncul saat lahir.
- Permasalahan pada tuba falopii: Penyebab umum dari infertilitas akibat tuba falopii adalah penyakit inflamasi pada panggul, terutama disebabkan karena chlamydia dan gonorea.
- Permasalahan dengan ovulasi: Ada banyak permasalahan mengapa wanita tidak mengalami ovulasi secara teratur. Ketidakseimbangan hormon, kondisi tiroid, stress yang parah, tumor pada pituitari merupakan beberapa hal yang dapat mempengaruhi ovulasi.
- Permasalahan pada jumlah dan kualitas telur: Semua wanita terlahir dengan kemampuannya menghasilkan sel telur, dan jumlah sel telur ini dapat habis lebih awal sebelum seorang wanita mengalami menopause. Selain itu, beberapa sel telur akan memiliki jumlah kromosom yang tidak tepat sehingga tidak dapat dibuahi atau berkembang menjadi janin yang sehat.
Yang Berisiko Mengalami Infertilitas Wanita
Banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko wanita mengalami infertilitas. Kondisi kesehatan secara umum, sifat genetik (turunan), gaya hidup dan usia dapat berkontribusi terhadap infertilitas wanita. Faktor spesifik dapat berupa:
- Usia
- Masalah hormon yang mencegah terjadinya ovulasi
- Siklus menstruasi yang tidak normal
- Obesitas atau terlalu kurus
- Endometriosis
- Permasalahan struktur kelamin (permasalahan pada tuba falopii, uterus, atau ovarium)
- Gangguan autoimun (lupus, rheumatoid arthritis, Hashimoto’s disease, kondisi kelenjar tiroid.
- Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)
Usia Mempengaruhi Infertilitas Wanita
Semakin bertambahnya usia wanita, kemungkinannya hamil akan menurun. Usia menjadi faktor yang lebih umum pada infertilitas wanita karena banyak pasangan yang menunggu usia 30 tahun – 40 tahun untuk memperoleh anak, sedangkan wanita dengan usia 35 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap masalah fertilitas. Alasan-alasan ini termasuk:
- Secara keseluruhan jumlah dari sel telur menurun
- Jumlah sel telur memiliki kromosom yang abnormal lebih banyak
- Peningkatan risiko dari kondisi kesehatan yang lain
Infertilitas Pria
Untuk mengandung seorang anak, sperma dari seorang pria harus bergabung dengan sel telur wanita. Testis memproduksi dan menyimpan sperma, dan masalah utama yang menyebabkan infertilitas pada pria adalah masalah pada kerja testis. Masalah lainnya adalah ketidakseimbangan hormon atau penyumbatan pada organ reproduksi pria. Sekitar 50% dari kasus infertilitas pria tidak diketahui.
Sekitar 10% - 15% infertilitas pada pria terjadi karena kekurangan sperma. Ketidakseimbangan hormon atau penyumbatan pergerakan sperma dapat menyebabkan kekurangan sperma. Dalam beberapa kasus infertilitas, seorang pria memproduksi sperma lebih sedikit dari biasanya. Penyebab utama dari kondisi ini adalah varikokel, yaitu pembesaran pembuluh darah di testis. Varikokel muncul pada sekitar 40% pria dengan masalah infertilitas.
Gejala-gejala yang Umum Terjadi pada Infertilitas Pria
1. Perubahan pada gairah seksual
2. Nyeri atau bengkak; testis kecil dan keras
3. Masalah pada mempertahankan ereksi
4. Masalah pada ejakulasi
5. Gangguan sperma
Sperma mungkin belum matang, berbentuk tidak normal, atau tidak bisa berenang. Dalam beberapa kasus, beberapa pria tidak memiliki cukup sperma atau tidak menghasilkan sperma. Permasalahan ini dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk:
- Infeksi atau kondisi inflamasi. Salah satu contohnya adalah infeksi virus gondongan setelah pubertas
- Gangguan hormon atau kelenjar pituitari
- Masalah imunitas dimana antibodi merusak sperma sendiri
- Faktor lingkungan dan gaya hidup. Hal ini termasuk penggunaan rokok, peminum alkohol berat, penggunaan obat-obatan steroid, atau paparan toksin
- Penyakit genetik, seperti sistik fibrosis atau hemochromatosis
Homosistein adalah asam amino yang tidak terkandung pada makanan. Homosistein dapat dikonversi menjadi sistein atau didaur ulang menjadi sistein yang didaur ulang kembali menjadi methionine, yang merupakan asam amino esensial dengan bantuan vitamin B spesifik. Kadar homosistein sangat bervariasi antara pria dan wanita, dengan rentang normal biasanya antara 5-15 micromol/L.
Kadar homosistein lebih tinggi dibandingkan batas normal menunjukkan adanya gangguan dalam metabolisme homosistein. Peningkatan kadar homosistein biasanya dikaitkan dengan peningkatan penyakit kardiovaskular, cebrovaskular, dan tromboembolik dengan menyebabkan lapisan endothelial, meningkatkan inflamasi, dan meningkatkan oxidative stress.
Peningkatan kadar homosistein total pada trisemester ketiga kehamilan dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah plasenta, yang dapat membatasi oksigen ke janin dan memberikan efek langsung kepada struktur otak janin dan meningkatkan risiko skizofrenia.
Peningkatan kadar homosistein secara signifikan ditemukan pada pasien dengan infertilitas. Penelitian menunjukkan indikasi bahwa infertilitas dan keguguran berulang adalah bagian dari rangkaian efek buruk dari hiperhomosisteine pada sistem reproduksi wanita.
Vitamin B9 merupakan nutrisi esensial, vitamin B9 terkandung pada makanan dalam bentuk folate. Folate memiliki banyak fungsi penting terhadap tubuh, seperti memegang peran penting dalam perkembangan sel dan pembentukan DNA. Kadar vitamin B9 yang rendah dikaitkan dengan peningkatan beberapa kondisi kesehatan, termasuk:
- Peningkatan homosistein: Tingkat homosistein tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan stroke
- Cacat lahir: Kadar folate yang rendah pada wanita hamil dikaitkan dengan kelainan cacat lahir, seperti cacat tabung saraf.
- Risiko kanker: Tingkat folate yang buruk juga terkait dengan peningkatan risiko kanker
Apa itu Folate?
Folate merupakan bentuk natural dari vitamin B9. Namanya berasal dari kata Latin “folium” yang berarti daun. Sayuran hijau merupakan salah satu sumber makanan folate terbaik. Bentuk aktif vitamin B9 merupakan jenis folate yang dikenal sebagai asam levomefolic atau 5-methyltetrahydrofolate (5-MTHF). Dalam sistem pencernaan, sebagian besar folate dari makanan diubah menjadi 5-MTHF sebelum masuk ke aliran darah.
Asam folate adalah bentuk sintetik dari vitamin B9 dan digunakan pada suplemen atau produk makanan olahan, seperti tepung dan sereal. Tidak seperti folate dari makanan, tidak semua asam folate yang dikonsumsi dapat dikonversi menjadi bentuk aktif dari vitamin B9 (5-MTHF) di saluran pencernaan karena perlu dikonversi di hati atau jaringan lain, sedangkan proses ini berjalan lambat dan tidak efisien pada beberapa orang. Setelah konsumsi suplemen asam folate, tubuh membutuhkan waktu untuk mengubah semuanya menjadi 5-MTHF. Bahkan asam folate dosis kecil, seperti 200 – 400 mcg per-hari mungkin tidak sepenuhnya dimetabolisme sampai konsumsi dosis berikutnya, akibatnya asam folate yang tidak termetabolisme (unmetabolized folic acid = UMFA) akan terdeteksi di aliran darah, dimana UMFA dikaitkan dengan beberapa masalah pada kesehatan. Beberapa penelitian mengindikasikan peningkatan UMFA dapat meningkatkan risiko kanker.
Mutasi MTHFR
Methylenetetrahydrofolate reductase (MTHF) adalah enzim yang memecah asam amino homosistein. Gen MTHFR yang mengkode enzim ini memiliki potensi untuk bermutasi yang dapat mengganggu kemampuan fungsi normal atau menonaktifkan enzim MTHFR sepenuhnya. Seseorang memiliki dua gen MTHFR yang diwariskan dari masing-masing orang tua. Ada dua tipe mutase dari MTHFR, yaitu C677T dan A1298C, terjadinya mutasi gen ini relatif umum terjadi.
Mutasi pada gen MTHFR dapat mempengaruhi kemampuan tubuh seseorang dalam memproses asam amino seperti homosistein. Kondisi yang terkait dengan mutasi gen MTHFR meliputi:
- Hiperhomosisteinemia, yang merupakan kondisi dimana kadar homosistein tinggi di aliran darah atau urin
- Ataksia, yang merupakan kondisi neurologis yang mempengaruhi koordinasi gerak
- Neuropati perifer, yang merupakan kondisi neurologi yang merusak saraf
- Microcephaly yang merupakan kondisi saat bayi lahir kepala lebih kecil dibandingkan normal
- Anemia, dimana tubuh kekurangan sel darah merah sehat di dalam tubuh
- Penyakit kardiovaskular, seperti pembekuan darah, stroke dan serangan jantung
- Kondisi kesehatan mental, seperti depresi
- Gangguan perilaku, seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
Apakah UMFA Berbahaya?
Asam folate dosis di atas 200 mcg per-hari dapat meningkatkan UMFA dalam darah, akibatnya UMFA tersebut terdeteksi di aliran darah manusia. Peningkatan UMFA di dalam darah berhubungan dengan berbagai permasalahan kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar UMFA dapat mengganggu kesehatan, termasuk risiko kanker. Penggunaan folate aktif (5-MTHF) dapat menjadi pilihan terbaik sebagai pengganti suplementasi asam folate.
PT. SIMEX PHARMACEUTICAL INDONESIA sebagai salah satu perusahaan farmasi di Indonesia, one of the pharmaceutical companies in Indonesia presents mempersembahkan produk suplemen HY-FOLIC® yang mengandung bentuk aktif dari folate (5-MTHF). HY-FOLIC® sebagai folate aktif tidak membentuk UMFA yang terjadi pada pemberian asam folate. HY-FOLIC® memiliki absorpsi yang lebih baik dibandingkan dengan asam folate; memiliki dosis yang dapat digunakan untuk terapi pada kehamilan dan infertilitas; serta mudah dikonsumsi. HY-FOLIC® telah disetujui oleh FDA dan EFSA serta memiliki sertifikat HALAL.
MaRgolis R., MyRskyla M. 2011. A Global Perspective on Happiness and Fertility. Popul Dev Rev. 2011; 37 (1): 29-56.
Servy EJ., Fournols LJ., et.al. 2018. MTHFR isoform carriers. 5-MTHF (5-methyl tetrahydrofolate) vs folic acid: a key to pregnancy outcome: a case series. Journal of Assisted Reproduction and Genetics.
Clement A., Menezo Y., et.al. 2019. 5-Methyltetrahydrofolate reduces blood homocysteine level significantly in C677T methyltetrahydrofolate reductase single-nucleotide polymorphism carriers consulting for infertility. Elsevier: Journal of Gynecology Obstetrics and Human Reproduction 49 (2020) 101622
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16083-infertility-causes
https://www.healthline.com/health/pregnancy/signs-of-infertility#Common-Signs-of-Infertility-in-Men-
https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/male-infertility
https://www.webmd.com/infertility-and-reproduction/guide/understanding-infertility-symptoms
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17774-female-infertility
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK556033/
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/male-infertility/symptoms-causes/syc-20374773
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554408/
https://www.medicalnewstoday.com/articles/326181
https://www.healthline.com/nutrition/folic-acid-vs-folate#folic-acid-risks
https://www.invitra.com/en/female-sterility/
https://www.invitra.com/en/male-sterility/male-sterility-causes/