Cacar monyet adalah penyakit menular yang menyebar melalui kontak dekat dengan individu yang terinfeksi atau hewan yang terinfeksi. Sebagian besar orang dapat sembuh sepenuhnya, tetapi dalam beberapa kasus, penyakit ini dapat menyebabkan penyakit parah atau kematian. Vaksinasi terhadap cacar memberikan beberapa perlindungan terhadap virus cacar monyet. Cacar telah diberantas pada tahun 1980, jadi tingkat vaksinasi terhadap cacar telah menurun sejak saat itu. Ini berarti perlindungan yang diberikan terhadap monkeypox juga berkurang, menyebabkan peningkatan kasus secara bertahap di Afrika Barat dan Tengah."
Pada tahun 2022, terjadi wabah di Eropa yang menyebar secara global, dimana penyakit ini ditularkan antar manusia, terutama melalui kontak seksual, meskipun jenis penularan ini bukanlah bentuk penularan yang umum. Sejak tahun 2023, sebuah epidemi dari varian baru virus monkeypox yang dikenal sebagai klade 1b, dimulai di Afrika Tengah. Pada Agustus 2024, WHO menyatakan wabah cacar monyet baru ini sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional.
Cacar monyet adalah penyakit langka yang disebabkan oleh virus monkeypox yang biasanya ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Monkeypox (MPXV), ada pada satwa liar (mamalia kecil tertentu). Monkeypox dapat menular antar manusia, terutama mealui kontak dekat dan kadang-kadang dari lingkungan ke manusia melalui benda dan permukaan yang telah disentuh oleh orang yang terinfeksi virus monkeypox. Di lingkungan dimana virus monkeypox ada di antara beberapa hewan liar, penyakit ini juga dapat ditularkan dari hewan yang terinfeksi kepada orang yang melakukan kontak dengan hewan tersebut. Kejadian pasien dengan cacar monyet biasanya terjadi di Afrika Tengah dan Afrika Barat, apabila terjadi kejadian di luar daerah tersebut, biasanya terjadi karena: travel internasional, hewan impor, kontak dekat dengan hewan atau orang yang terinfeksi virus monkeypox.
a. Dari orang ke orang
Virus monkeypox menyebar dari orang ke orang terutama melalui kontak dekat dengan seseorang yang terinfeksi cacar monyet. Kontak dekat tersebut meliputi kontak kulit ke kulit dan mulut ke mulut, atau mulut ke kulit, serta dapat mencakup wajah berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi virus monkeypox (seperti berbicara atau bernapas dekat satu sama lain, atau kegiatan lain yang dapat menghasilkan partikel). Selama wabah global yang dimulai tahun 2022, virus ini sebagian besar menyebar melalui kontak seksual.
Orang dengan mpox dianggap menular hingga lesi luka mongering, dan kulit yang mengelupas telah tergantikan dengan lapisan kulit baru yang terbentuk di bawahnya, serta semua lesi di tubuh (di mulut, tenggorokan, mata, vagina, dan anus) juga telah sembuh yang biasanya memakan waktu antara 2 hingga 4 minggu.
Virus ini juga mungkin bertahan dalam beberapa waktu pada pakaian, tempat tidur, handuk, benda elektronik, dan permukaan yang telah disentuh oleh orang yang terinfeksi virus monkeypox. Orang lain yang menyentuh barang-barang ini dapat tertular, terutama jika mereka memiliki luka, atau menyentuh mata, hidung, mulut, atau membrane mukosa lainnya tanpa terlebih dahulu mencuci tangan. Membersihkan dan mendisinfeksi permukaan atau objek serta mencuci tangan setelah menyentuh permukaan atau objek yang mungkin terkontaminasi dapat membantu mencegah penularan cacar monyet.
Virus ini juga dapat menyebar selama kehamilan dari ibu ke janin, selama atau setelah melahirkan melalui kontak kulit ke kulit, atau dari orang tua yang terinfeksi mpox ke bayi atau anak selama kontak dekat. Meskipun telah dilaporkan bahwa virus monkeypox dapat ditularkan dari seseorang yang tidak menunjukkan gejala (asimptomatik), informasi yang tersedia masih terbatas apakah virus ini dapat ditularkan dari seseorang yang terinfeksi sebelum seseorang menunjukkan gejala atau setelah lesi sembuh.
b. Dari Hewan ke Manusia
Seseorang yang melakukan kontak fisik dengan hewan pembawa virus, seperti beberapa spesies monyet atau terrestrial rodent (seperti tupai pohon) juga dapat menjadi vektor penyebaran virus. Paparan melalui kontak fisik dengan hewan atau daging dapat terjadi melalui gigitan, cakaran, atau selama aktivitas seperti berburu, memotong kulit, menjebak, atau menyiapkan makanan. Virus ini juga dapat ditularkan melalui konsumsi daging yang terkontaminasi dan tidak dimasak dengan matang.
c. Dari Manusia ke Hewan
Ada beberapa laporan tentang virus yang terdeteksi pada anjing peliharaan. Namun belum dapat dipastikan apakah ini merupakan infeksi yang sebenarnya atau hanya deteksi virus tersebut terkait dengan kontaminasi permukaan barang.
Karena banyak spesies hewan yang diketahui rentan terhadap virus ini, ada potensi terjadinya spillback virus dari manusia ke hewan di berbagai lingkungan. Orang yang telah dikonfirmasi atau dicurigai memiliki monkeypox harus menghindari kontak fisik dekat dengan hewan, termasuk hewan peliharaan (seperti kucing, anjing, hamster, tikus kecil), hewan ternak, dan satwa liar.
Cacar monyet dapat menyebabkan berbagai tanda dan gejala, sementara beberapa orang mengalami gejala yang kurang parah, yang lain mungkin mengalami gejala yang serius dan memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan. Gejala cacar monyet dapat muncul 3 hingga 17 hari setelah seseorang terpapar, dan saat seseorang mengalami gejala disebut sebagai periode inkubasi.
Gejala umum dari cacar monyet termasuk kemerahan pada kulit yang dapat berlangsung selama 2-4 minggu; setelah itu diikuti dengan gejala:
Kemerahan pada kulit terlihat seperti lepuh atau luka dan dapat muncul di wajah, telapak kaki, selangkangan, daerah genital dan/atau anus. Lesi ini juga dapat ditemukan di mulut, tenggorokan, atau pada mata. Jumlah luka dapat berkisar dari satu hingga beberapa ribu. Beberapa orang mengalami peradangan di dalam rectum (proktitis) yang dapat menyebabkan nyeri hebat, serta peradangan pada organ genital yang dapat menyebabkan kesulitan berkemih.
Dalam beberapa kasus, gejala cacar monyet akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu dengan perawatan suportif, seperti obat untuk nyeri atau demam. Namun pada beberapa orang, penyakit ini menimbulkan efek yang lebih parah atau menyebabkan komplikasi, dan bahkan kematian. Bayi baru lahir, anak-anak, ibu hamil, dan orang dengan imunitas rendah (seperti pada pasien AIDS) mungkin berisiko lebih tinggi mengalami penyakit cacar monyet yang lebih serius hingga menyebabkan kematian.
Komplikasi dapat mencakup infeksi bakteri berat akibat lesi kulit, virus monkeypox yang memengaruhi otak (ensefalitis), jantung (miokarditis), atau paru-paru (pneumonia) serta masalah mata. Seseorang yang mengalami gejala parah dari cacar monyet mungkin membutuhkan rawat inap, perawatan suportif, dan obat antivirus untuk mengurangi keparahan lesi dan memperpendek waktu pemulihan.
Tingkat keparahan penyakit dapat bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk cara penularan virus, seberapa rentan seseorang terhadap virus, dan seberapa banyak virus yang terpapar. Komplikasi cacar monyet yang biasa terjadi:
Tingkat kematian cacar monyet berkisar antara 0-11% selama wabah, dengan anak-anak muda yang paling terdampak. Individu yang memiliki sistem imun yang lemah berisiko lebih tinggi mengalami gejala yang parah, seperti pada pasien yang positif HIV.
Kebanyakan orang dengan cacar monyet pulih dalam waktu 2-4 minggu. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat membantu mengatasi gejala dan mencegah penularan cacar monyet kepada orang lain:
Yang Harus Dilakukan
Yang Jangan Dilakukan
Untuk mencegah penyebaran virus cacar monyet kepada orang lain, orang yang terinfeksi cacar monyet harus mengisolasi diri di rumah mengikuti panduan dari penyedia layanan kesehatan, atau di rumah sakit jika diperlukan selama periode infeksi (dari timbulnya gejala sampai lesi sembuh dan kulit mengelupas). Menutupi lesi dan menggunakan masker yang sesuai pada saat berada di hadapan orang lain dapat membantu mencegah penyebaran. Menggunakan pengaman pada saat berhubungan seksual dapat membantu mengurangi risiko terkena cacar monyet, tetapi tidak akan mencegah penyebaran melalui kontak kulit-ke-kulit atau mulut-ke-kulit.
Meningkatkan sistem imun tubuh dapat menjadi salah satu langkah untuk mencegah infeksi cacar monyet. Salah satu komponen dalam suplemen yang sering digunakan untuk meningkatkan sistem imun tubuh adalah Echinacea dan Black Elderberry.
Echinacea atau cone flower adalah tanaman berbunga dari famili Asteraceae. Echinacea purpurea adalah salah satu spesies yang paling banyak digunakan untuk imunodulator. Berdasarkan penelitian oleh Manayi, et.al. mengatakan bahwa Echinacea purpurea memiliki efek imunodulator dengan meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh seperti neutrofil, makrofag, leukosit, polimorfonuklear (PMN) dan sel Natural Killer (NK). Echinacea juga memiliki efek anti-inflamasi, seperti menurunkan IL-6 sebagai marker inflamasi.
Berdasarkan penelitian oleh Wasielica, et.al. menyatakan bahwa ekstrak Black Elderberry juga ditemukan dapat meredakan respons inflamasi pada makrofag RAW 264.7 yang teraktivasi dengan menurunkan regulasi ekspresi gen pro-inflamasi (TNF-α, IL-6, COX-2, iNOS) dan menekan peningkatan produksi mediator inflamasi (TNF-α, IL-6, PGE2, NO).
Zinc picolinate dan Selenium dapat meningkatkan aktivitas imunodulator dari sistem imun sehingga dapat digunakan untuk pencegahan penyakit.
Kita dapat meningkatkan sistem imun tubuh dengan suplemen immunomodulator seperti IMUNVIT PLUS® dari PT Simex Pharmaceutical Indonesia. IMUNVIT PLUS® mengandung Echinacea, Black Elderberry, Zinc picolinate, dan Selenium.
Penelitian bertahun-tahun mengenai terapi untuk cacar telah mengarah pada pengembangan produk yang mungkin juga berguna untuk mengobati cacar monyet, misalnya obat antivirus yang dikembangkan untuk mengobati cacar, yaitu Tecovirimat yang disetujui pada Januari 2022 oleh European Medicines Agency untuk pengobatan cacar monyet pada situasi luar biasa.
Tujuan pengobatan cacar monyet adalah untuk merawat ruam, mengelola rasa sakit, dan mencegah komplikasi. Perawatan dini dan suportif penting untuk membantu mengelola gejala dan menghindari masalah lebih lanjut.
Mendapatkan vaksin untuk cacar monyet dapat membantu mencegah infeksi (profilaksis sebelum terpapar), dan direkomendasikan untuk orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi cacar monyet. Saat ini, WHO merekomendasikan penggunaan vaksin MVA-BN atau LC16, atau vaksin ACAM2000 jika vaksin lainnya tidak tersedia. Hanya orang-orang yang berisiko (misalnya, seseorang yang telah kontak dekat dengan orang yang terinfeksi cacar monyet, atau seseorang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar cacar monyet) yang harus dipertimbangkan untuk vaksinasi. Vaksinasi massal saat ini tidak direkomendasikan. Para pengunjung yang mungkin berisiko berdasarkan penilaian risiko individu dengan penyedia layanan kesehatan mereka mungkin ingin mempertimbangkan vaksinasi.
Kelompok pasien yang berisiko:
Vaksin juga dapat diberikan setelah seseorang telah berkontak dengan orang yang terinfeksi dengan cacar monyet (profilaksis setelah terpapar). Dalam kasus ini, vaksin harus diberikan dalam waktu kurang dari 4 hari setelah kontak dengan orang yang terinfeksi cacar monyet. Vaksin masih dapat diberikan hingga 14 hari jika orang tersebut belum menimbulkan gejala.
Beberapa antivirus telah menerima otorisasi penggunaan pada saat gawat darurat di beberapa negara dan sedang dievauasi dalam uji klinis. Hingga saat ini, belum ada pengobatan antivirus yang terbukti efektif untuk menangani cacar monyet. Inosine pranobex (IP) sebagai agen imunomodulator mungkin dapat membantu melawan virus cacar monyet.
Selama beberapa dekade, IP telah menjadi obat yang banyak digunakan karena sifat imunomodulator dan antivirusnya, dan beberapa mekanisme aksi telah diusulkan untuk menjelaskan sifat-sifat ini. Studi menunjukkan bahwa IP dapat memengaruhi baik sistem imun humoral maupun seluler, sehingga meningkatkan respons imun seseorang dan juga dapat menunjukkan efek antivirus.
MAXPRINOL® dari PT Simex Pharmaceutical Indonesia yang mengandung Inosine Pranobex atu Methisoprinol sebagai agen immunomodulatory dan sifat antivirusnya dapat membantu untuk melawan virus cacar monyet.
Reference
https://ourworldindata.org/mpox
https://www.nhs.uk/conditions/mpox/
https://www.ecdc.europa.eu/en/mpox
https://www.who.int/news-room/questions-and-answers/item/mpox
https://abcnews.go.com/Health/symptoms-monkeypox-treat/story?id=84907957
Manayi A., Vazirian M., Seidnia S. 2015. Echinacea purpurea: Pharmacology, phytochemistry and analysis methods. Pharmacognosy Reviews. 2015; 9(17): 63-72
Dapas B., Dall'Acqua S., et.al. 2014. Immunomodulation mediated by a herbal syrup containing a standardized Echinacea root extract: A pilot study in healthy human subjects on cytokine gene expression. Elsevier: Phytomedicine 2014
Wasielica JZ., Olejnik A., et.al. 2019. Elderberry (Sambucus nigra L.) Fruit Extract Alleviates Oxidative Stress, Insulin Resistance, and Inflammation in Hypertrophied 3T3-L1 Adipocytes and Activated RAW 264.7 Macrophages. Foods 2019, 8, 326.
Silva J., Pantzartzi CN., Votava M. 2019. Inosine Pranobex: A Key Player in the Game Againt a Wide Range of Viral Infections and Non-Infectious Disease. Adv Ther