Rhinitis alergi merupakan masalah kesehatan global yang semakin berkembang. Secara global, prevalensi rhinitis alergi terus meningkat, terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah, dengan rentang prevalensi antara 1,0% hingga 54,5%. Prevalensi rhinitis alergi sekitar 5% pada anak-anak usia 3 tahun, meningkat seiring bertambahnya usia dari 8,5% pada anak usia 6-7 tahun menjadi 14,6% pada anak usia 13-14 tahun, dan mencapai lebih dari 11,8% hingga 46% pada orang dewasa usia 20-44 tahun. Perlu dicatat bahwa insiden rhinitis alergi lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan sebelum pubertas, tetapi berbalik setelah mencapai pubertas.
Di Indonesia, prevalensi rhinitis alergi diperkirakan antara 1,5% hingga 12,4% dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Menurut beberapa studi di Indonesia, prevalensi rhinitis alergi pada anak-anak usia 13-14 tahun adalah 16,4% di Jakarta Barat. Rhinitis alergi mempengaruhi satu dari enam individu dan terkait dengan morbiditas yang signifikan, kehilangan produktivitas, dan biaya kesehatan yang tinggi. Komplikasi umum dari rhinitis alergi termasuk sinusitis, polip nasal, asma bronkial, dan otitis media.
Rhinitis alergi adalah reaksi alergi terhadap partikel-partikel kecil di udara yang disebut alergen. Ketika seseorang menghirup alergen melalui hidung atau mulut, tubuh akan bereaksi dengan melepaskan bahan kimia alami yang disebut histamin. Alergen yang sering ditemukan meliputi serbuk sari, jamur, bulu hewan, dan tungau debu. Rhinitis alergi ditandai dengan hidung berair, bersin (terutama bersin yang kuat dan berulang-ulang), hidung tersumbat, hidung gatal, dan biasanya disertai dengan gejala mata.
Etiologi Rhinitis Alergi
Reson alergi diklasifikasikan menjadi reaksi fase awal dan fase akhir. Pada fase awal, rhinitis alergi merupakan respons yang dimediasi oleh immunoglobulin (Ig) E terhadap alergen yang terhirup sehingga menyebabkan peradangan. Respons awal ini terjadi dalam waktu 5 hingga 15 menit setelah terpapar antigen, yang mengakibatkan degranulasi sel mast. Proses ini akan melepaskan berbagai mediator yang sudah ada sebelumnya dan juga yang baru disintesis, termasuk histamine yang merupakan salah satu mediator utama terjadinya rhinitis alergi. Histamin menyebabkan bersin melalui saraf trigeminal dan juga berperan dalam menyebabkan hidung berair dengan merangsang kelenjar lendir. Mediator imun lainnya seperti leukotriene dan prostaglandin juga terlibat karena bekerja pada pembuluh darah untuk menyebabkan terjadinya penyumbatan pada hidung. Empat hingga enam jam setelah respons awal, terjadi aliran sitokin seperti interleukin (IL)-4 dan IL-13, dari sel mast akan menandakan perkembangan respons fase akhir. Sitokin-sitokin ini, secar bergiliran akan memfasilitasi infiltrasi eosinofil, limfosit T, dan basofil ke dalam mukosa nasal serta menghasilkan edema nasal dengan kongesti yang dihasilkan.
Epidemiologi Rhinitis Alergi
Prevalensi rhinitis alergi berdasarkan diagnosis dokter sekitar 15%; namun prevalensi diperkirakan dapat mencapai 30% berdasarkan pasien dengan gejala nasal. Rhinitis alergi diketahui mencapai puncaknya pada decade kedua hingga keempat kehidupan dan kemudian secara bertahap menurun. Kejadian rhinitis alergi pada populasi anak-anak juga cukup tinggi, sehingga menjadikan rhinitis alergi menjadi gangguan kronis pediatrik yang paling umum. Menurut data dari International Study for Asthma and Allergies in Childhood, 14,6% pada kelompok usia 13 hingga 14 tahun dan 8,5% pada kelompok usia 6 hingga 7 tahun menunjukkan gejala rhinoconjunctivitis yang terkait dengan rhinitis alergi. Rhinitis alergi musiman tampaknya lebih umum pada kelompok usia pediatrik, sementara rhinitis kronis lebih prevalen pada orang dewasa.
Gejala dan Penyebab Rhinitis Alergi
Rhinitis alergi dapat terjadi sepanjang tahun. Alergi di luar ruangan biasanya lebih parah pada musim semi, musim panas, dan awal musim gugur tergantung tempat tinggal seseorang. Pada cuaca yang hangat, rumput dan bunga bermekaran sehingga jumlah serbuk sari lebih tinggi. Alergi di dalam ruangan, biasanya disebabkan oleh hewan peliharaan, tungau, dan debu dapat memburuk pada musim dingin karena orang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan jendela tertutup.
Gejala rhinitis alergi meliputi:
- Sumbatan hidung (kongesti), bersin, dan hidung berair
- Hidung, tenggorokan, dan mata gatal
- Mata berair, gatal, dan merah
- Sakit kepala, tekanan sinus, dan lingkaran hitam di bawah mata
- Lebih banyak lendir di hidung dan tenggorokan
- Kelelahan ekstrem dan rasa lelah, sering disebabkan oleh kualitas tidur yang buruk
- Sakit tenggorokan akibat lendir menetes ke tenggorokan
- Batuk
- Mengi, batuk, dan kesuliatan bernapas
- Kulit di bawah mata yang bengkak dan tampak memar, dikenal sebagai allergic shiners
Tidak ada cara untuk mencegah rhinitis alergi secara utuh, tetapi perubahan gaya hidup dapat membantu mengelola kondisi ini. Untuk mengurangi gejala, aktivitas yang sebaiknya dilakukan adalah:
Rhinitis alergi dapat diobati dengan beberapa cara, termasuk menggunakan obat-obatan di bawah ini.
a. Anhistamin
Obat antihistamin tersedia melalui resep dokter atau beberapa jenis obat dapat dibeli bebas (OTC). Antihistamin bekerja dengan cara memblokir histamin yang dikeluarkan oleh tubuh selama respons alergi. Antihistamin tersedia dalam bentuk pil, cairan, tetes mata, semprotan hidung, dan inhaler. Beberapa jenis antihistamin yang sering digunakan:
b. Dekongestan
Dekongestan dapat meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan sakit kepala, kesulitan tidur, dan iritabilitas. Dekongestan hidung dapat menjadi adiktif jika digunakan lebih dari lima hari. Beberpa dekongestan yang biasa dipakai:
c. Tetes Mata dan Semprotan Hidung
Tetes mata dan semprotan hidung dapat membantu meredakan gatal dan gejala alergi lainnya untuk sementara waktu. Namun tergantung pada produknya, hidari penggunaan jangka panjang. Seperti halnya dekongestan, penggunaan berlebihan dari beberapa tetes mata dan semprotan hidung juga dapat menyebabkan efek rebound.
d. Kortikosteroid
Antihistamin digunakan pada pasien dengan gejala alergi rhinitis ringan atau pasien yang tidak ingin menggunakan kortikosteroid intranasal (INCS = intranasal corticosteroid). Untuk pasien yang mengalami gejala persisten atau sedang hingga berat, INCS lebih direkomendasikan. Kortikosteroid dapat membantu mengatasi peradangan dan respons imun. Kombinasi tetap antara INCS dan antihistamin umumnya digunakan pada pasien yang tidak efektif dengan pemberian INCS tunggal.
e. Penghambat Leukotrien
Selama reaksi alergi, tubuh melepaskan leukotrien, histamin, dan bahan kimia lainnya yang menyebabkan peradangan dan gejala rhinitis alergi. Penghambat leukotrien yang paling umum adalah Montelukast. Beberapa orang mengalami perubahan suasana hati, mimpi yang hidup, gerakan otot yang tidak terkendali, dan ruam kulit saat mengonsumsi obat ini.
f. Imunoterapi
Dokter mungkin merekomendasikan imunoterapi atau suntikan alergi jika pasien mengalami alergi yang berat. Pasien dapat menggunakan rencana perawatan ini bersamaan dengan obat-obatan untuk mengontrol gejala. Suntikan ini mengurangi respons imun terhadap alergen tertentu seiring waktu dan memerlukan komitmen jangka panjang terhadap rencana perawatan.
Regimen suntikan alergi dimulai dengan fase buildup. Selama fase ini, pasien akan pergi ke dokter untuk mendapatkan suntikan satu hingga tiga kali per minggu selama sekitar tiga hingga enam bulan agar tubuh terbiasa dengan alergen dalam suntikan. Selama fase maintenance, pasien kemungkinan perlu menemui dokter untuk suntikan setiap dua hingga empat minggu selama periode tiga hingga lima tahun.
RHINOMAX® merupakan solusi yang dapat digunakan untuk rhinitis alergi. RHINOMAX® adalah kombinasi Pseudoephedrine Sulphate sebagai dekongestan dan Desloratadine 2,5 mg sebagai antihistamin. RHINOMAX® sebagai modified release tablet memiliki sifat yang unik, seperti terapi long acting, onset cepat, dan tidak memberikan efek kantuk. RHINOMAX® sebagai modified release tablet pada memiliki efek jangka panjang, sehingga pasien dapat mengonsumsi obat pada pagi atau siang hari, dan tidak seperti obat antihistamin lainnya, konsumsi RHINOMAX® tidak menyebabkan pasien mengantuk.
Referensi
Fauzi, Sudiro M., Lestari BW. 2015. Prevalence of Allergic Rhinitis based on World Health Organization (ARIA-WHO) questionnaire among Batch 2010 Students of the Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran. AMJ.2015;2(4):620-5
Afriana A., Syabriansyah., Dita DAA. 2023. Profile of Allergic Rhinitis and its Association with Chronic Suppurative Otitis Media. Muhammadiyah Medical Journal Vol. 4., No.2, Year 2023.
Liu, Y., Liu, Z. 2022. Epidemiology, Prevention and Clinical Treatment of Allergic Rhinitis: More Understanding, Better Patient Care. J. Clin. Med. 2022, 11, 6062.
Sharma K., Akre S., Chakole S., Wanjari MB. 2022. Allergic Rhinitis and Treatment Modalities: A Review of Literature. Cureus 14(8): e28501.
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8622-allergic-rhinitis-hay-fever
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538186/
https://www.healthline.com/health/allergic-rhinitis#treatments